Kelahiran Cucu Pertama

 


Di Tengah malam hari itu, Andreas Ernesto menelepon kami mengabarkan bahwa istrinya sudah merasakan tanda-tanda kelahiran buah hatinya. Maka dengan perasaan yang mendadak dag dig dug, kami segera meluncur ke kediaman Andreas yang jaraknya cukup jauh dari rumah kami. Dalam perjalanan ke rumah Andreas, ia menelepon lagi bahwa ia akan segera membawa Lafrida ke rumah sakit terdekat karena kontraksi yang dirasakan semakin muat.

Di ruang bersalin yang dipenuhi aroma lembut cairan antiseptik dan bisikan doa, keluarga kecil itu menahan napas. Andreas Ernesto menggenggam tangan Lafrida dengan erat, seakan ingin meminjamkan seluruh kekuatan yang ia punya. Di wajah Lafrida, meski lelah, tampak ketenangan yang sulit digambarkan, ketenangan seorang ibu yang siap menyambut kehidupan baru.

Dan tak lama kemudian, tangis itu pecah. Nyaring, murni, sekaligus memecah segala kecemasan yang sejak pagi menghantui mereka. Andreas menunduk, matanya langsung basah, sementara Lafrida tersenyum dengan sisa tenaga yang ia miliki. Di pelukan bidan, seorang bayi mungil dengan kulit halus dan rambut lembut itu menggeliat pelan.

“Selamat datang, nak,” ucap sang bidan dengan suara lembut.

Ketika Gavin diletakkan di dada Lafrida, dunia seperti berhenti sejenak. Nafas kecil itu, hangat tubuhnya, semuanya terasa sebagai anugerah yang tak ternilai. Andreas menyentuh kepala putranya dengan tangan bergetar, bukan oleh gugup, tapi oleh kebahagiaan yang tak lagi muat di dadanya.

Beberapa jam kemudian, ketika keluarga berkumpul di ruang perawatan, suasana dipenuhi cahaya lembut senja. Omi (nenek) dan Odi (kakek) Gavin duduk di sisi ranjang, mata mereka berkaca-kaca melihat cucu pertama yang lahir dengan lancar dan sehat. Mereka sudah sering membayangkan momen ini, tetapi kenyataannya jauh lebih indah. Gavin, dengan kepalan tangan mungilnya, seolah membawa harapan baru bagi seluruh keluarga.

“Terima kasih sudah hadir, Nak,” bisik sang omi (nenek) sambil mengusap pipinya yang halus. “Kamu membawa kebahagiaan yang selama ini kami nantikan.”

Sementara itu, Andreas memeluk bahu Lafrida. Ia menatap istrinya dengan rasa syukur yang tak mampu ia rangkai menjadi kata-kata. Perjalanan panjang yang mereka lewati, doa yang tak terhitung jumlahnya, semua terbayar oleh bayi kecil yang kini tidur dengan damai.

Di tengah tawa kecil keluarga dan suara lembut Gavin yang sesekali mengerang, mereka sadar satu hal: hari itu bukan hanya hari kelahiran seorang bayi, tetapi juga hari lahirnya harapan baru, hari ketika sebuah keluarga bertambah lengkap.

Dan di hati mereka, kebahagiaan itu akan selalu terjaga, setenang napas pertama seorang cucu yang sangat dinantikan.

 

Komentar